Senin, 27 Februari 2012

KEBIJAKAN IMM Airlangga PERIODE MUKTAMAR III

1.   Bidang Organisasi
    Bidang Kader diarahkan pada penguatan tri kompetensi dasar yang secara dinamis mampu menempatkan diri sebagai pelaku perubahan sosial masyarakat. Bidang organisasi diarahkan pada tercapainya struktur dan fungsi organisasi serta mekanisme kepemimpinan yang mantap dan mendukung gerakan Ikatan dalam mencapai tujuannya. Program konsolidasi gerakan IMM juga diarahkan pada terciptanya kekuatan gerak IMM baik kedalam maupun keluar sebagai modal penggerak bagi pengembangan gerakan IMM.
a.   Percepatan perkaderan ke tingkat grassroot internal.
b.   Mendorong terbentuknya korps Instruktur hingga ke cabang di semua daerah.
c.    Paradigma perkaderan diarahkan kepada paradigma perkaderan berbasis realitas dan sensitif gender.
d.   Menciptakan mekanisme kontrol dan  keamanan organisasi.
e.   Meningkatkan kapasitas manajemen organisasi.
f.     Mengawal tertib organisasi.
g.    Menguatkan kemampuan dokumentasi organisasi, penelusuran dan penjagaan dokumen-dokumen penting organisasi.
h.   Bersama bidang lain yang terkait, menciptakan system database kader berbasis teknologi.

Ketua Bidang Kaderisasi : Imm. Fuad Fahmi Hasan (087839882295)
Sekretaris Bidang Kaderisasi : Immi. Qisthy Wulandari    
anggota :
  1. Imm. Johan Andi Luhung           
  2. Immi Megatri Ratna Safitri         
  3. Immi. Umi Himawan                 
  4. Immi. Megawati                     
2.   Bidang keilmuan
    Diarahkan pada penguatan basis metodologi kader dan kultur keilmuan di semua lini. Bidang ini darahkan untuk mengakomodir bakat dan minat seni budaya di Indonesia.
a.   Mendorong terciptanya kantong-kantong intelektual kader.
b.   Menguatkan kapasitas dan memperkaya  metodologi kader.
c.    Mendorong terciptanya kantong-kantong integrasi antara disiplin ilmu akademis dengan gerakan IMM.

Ketua Bidang Keilmuan : Immi. Elfira Maya Adiba   (085655480447)
Sekretaris Bidang Keilmuan : Imm. Nyuharto Eko   
anggota :
  1. Immi. Fifin Nurafina                   
  2. Immi. Shofiyati Rochmah           
  3. Immi. Nur Amaliyah                
3.   Bidang Media dan Pengembangan Teknologi
    Diarahkan pada terciptanya media komunitas yang mumpuni, meningkatnya bargaining position dengan media dan menjadikan teknologi sebagai bagian integral dari pengembangan IMM.
a.   Menciptakan media komunitas yang mumpuni.
b.   Melakukan bargaining power dengan media lainnya.
c.    Menciptakan kultur menulis di IMM.
d.   Menciptakan kultur penggunakan teknologi mutakhir dalam gerakan IMM, dalam hal ini termasuk peningkatan kapasitas kader terhadap teknologi.
e.   Bersama bidang organisasi menciptakan database kader yang mumpuni dan efektif.

Kabid Media & Perkembangan Teknologi : Immi. Lusiana Ulfa H.          (085733243743)
Sekbid Media & Perkembangan Teknologi : Imm. Azrohal Hasan          
anggota :
  1. Immi. Yunita Rokhmawati  
  2. Immi. Nuara Aguilika        
  3. Immi. Fajar Ina                
  4. Immi. Hajar                     
  5. Immi. Sofie                     
4.   Bidang Hikmah
    Bidang Hikmah diarahkan pada penguatan peran sosial-politik IMM di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam peran serta sosial politik generasi muda. Pemetaan basis data sosial politik dan budaya, penguatan peran intelektual kader, laboratorium politik dengan pengayaan khazanah sosial politik dan budaya.
a.   Menguatkan konsolidasi gerakan di tingkat internal dalam merespon isu-isu nasional.
b.   Meningkatkan bargaining power IMM dalam rangka mempengaruhi kebijakan.
c.    Menindaklanjuti lembaga sustain di bidang Hikmah yang concern ke advokasi .
d.   Mendorong kultur aktivitas gerakan berdasar analisis dengan data dan metodologi yang lebih baik.
e.   Penguatan kapasitas gerakan kader  terfokus pada kapasitas analisis dan strategi sosial-politik.

Ketua Bidang Hikmah : Immi. Lilis Alfiani               (085730924874)
Sekretaris Bidang Hikmah : Imm. Mukhibuddin            
anggota :
  1. Imm. Hafizuddin Ahmad          
  2. Immi. Raisa Aribatul Hamidah  
  3. Immi. Retno Achsana Syahadah
  4. Immi. Aisyah Yasmin  
5.   Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Serta Lingkungan Hidup
    Diarahkan untuk menjadikan institusi IMM mampu melakukan penguatan-penguatan di masyarakat untuk terciptanya kemandirian.
a.   Mendorong terbentuknya lembaga berkelanjutan di bidang pemberdayaan masyarakat dan lingkungan hidup.
b.   Menguatkan kapasitas analisis dan gerakan kader dalam pemberdayaan masyarakat.
c.    Membuat konsep fokus pemberdayaan IMM untuk masyarakat dan lingkungan hidup.
d.   Membuat konsep untuk mendorong masyarakat agar melestarikan lingkungan hidup.

Ketua Bidang Sosial & Budaya Masyarakat : Imm. Zulkifli Abdul Latif (085649154732)
Sekretaris Bidang Sosial & Budaya Masyarakat : Immi. Sarah Syafira 
anggota :
  1. Imm. Fadli             
  2. Immi. Livia Ardine 
  3. Imm. Rizky Novianto
  4. Imm. Amrizal                   
6.   Bidang Ekonomi
    Diarahkan pada pengembangan kapasitas kewirausahaan kader dan kemandiran organisasi secara ekonomi.
a.   Menguatkan serta mengembangkan Badan Usaha Milik Ikatan menjadi lembaga berkelanjutan dengan pengelolaan profesional.
b.   Menjalin kemitraan ikatan dengan lembaga-lembaga pemerintahan dalam hal sosial ekonomi.

Ketua Bidang Ekonomi : Immi. Ristaqul Husna Belgania    (085258098188)
Sekretaris Bidang Ekonomi : Imm. Gunawan                     
anggota :
  1. Immi. Meytha Aisyi
  2. Immi. Effa       
7.   Bidang Immawati
    Diarahkan pada upaya penguatan penguatan jati diri dan peran aktif potensi sumber daya putri dalam transformasi sosial menuju masyarakat utama. Peran-peran ini berbasis pada paradigma adil gender.
a.   Melakukan pengarusutamaan gender di tubuh internal IMM.
b.   Melakukan respon terhadap isu-isu kemanusiaan dengan basis paradigma adil gender.
c.    Menciptakan database kader yang baik dan mekanisme transfer kader yang efektif dari IMMawati ke ortom lainnya.
d.   Penguatan IMMawati.

Ketua Bidang Immawati : Immi. Anis Maslahah                 (081515597832)
Sekretaris Bidang Immawati : Immi. Izfa Rifdiani   
anggota :
  1. Immi. Dian Dewanti           (085745241369)
  2. Immi. Azizah Rahmawati (085749813249)
8. Bidang Dakwah
    Bidang Dakwah diarahkan pada gerakan dakwah Islam bernuansa pencerahan dan menggembirakan masjid kampus sebagai basis gerakan dakwah IMM.
a.   Merevitalisasikan gerakan dahwah jamaah sesuai dengan kearifan lokal.
b.   Pemetaan potensi kader da’i terhadap tuntunan pergumalan dakwah kampus.
c.    Mendayagunakan masjid sebagai basis gerakan dakwah.
d.   Mendorong terjadinya gerakan tajdid di seluruh kampus.
e.   Membentuk laboraturium dai ikatan.

Ketua Bidang Dakwah : Imm. Fatur               (085648004946)
Sekretaris Bidang Dakwah : Imm. Devi. Ersa          
anggota :
  1. Imm. Muis   
  2. Imm. Syarif 
  3. Imm. Syafa’ 
Pimpinan 
pimpinan komisariat        : Immawan Ahmad Sholikin                 (085730458141)
Wakil                               : Immawati Cintya Amy Pratitiningtyas         (087806509234)
Bendahara                       : Immi. Deykha Aguilika                      (085749540808)
Sekretaris                        : Immi. Dyah Restiyani                        (083894478989)
                                         Immi. Nur Ika Fatmawati                             (085731968692)

Senin, 20 Februari 2012

Catatan Kecil Seorang Kader Ikatan

“Hakikat Mahasiswa dalam Perspektif Ikatan”

Di usia kita yang sudah semakin meningkat, atau selalu bertambah dari tahun ketahunnya. Di masa kita yang telah berlalu dan tidak akan dapat kembali lagi, sebagaimana kata Imam Al-Ghozali saat bertanya kepada muridnya; salah satu pertanyaan tersebut adalah “Hal apakah yang paling jauh dari mu ?” Sang murid ada yang menjawab “Bulan”“Matahari”“Langit”“Syurga”“Neraka”, (para murid Imam Al-Ghozali menjawab sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang telah ia dapat). Imam Al-Ghozali pun berkata “Jawaban kalian semua itu tidak ada yang salah dan semuanya benar, tetapi ada yang lebih benar. “Yang lebih benar adalah “Masa lalu” karena masa lalu tidak akan dapat kembali lagi, Se-hari yang kemarin tak akan dapat kita ulang, Se-jam yang lalu tak akan menghampiri kita lagi, Se-menit yang lalu tak akan bisa kita jumpai lagi, Se-detik yang lalu akan pergi dan Seper Mili detik yang lalu akan berlalu dari kita tanpa bisa kembali kita ulangi. Dunia ini akan terus berlalu meninggalkan kita, tanpa kita sadari sekarang kita sudah berada pada level yang paling atas dari pengkaderan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh Negara kita yang sangat kita cintai ini.

      Seiring berjalannya waktu yang sudah sedemikian lama itu kita lewati, apakah kita sebagai seorang mahasiswa ini sudah mengetahui Apa dan Hakekat dari diri kita di ciptakan di dunia ini? Dan pertanyaan yang lebih konyol, tapi perlu kita tanyakan pada diri kita adalah sudah sejauh manakah kita memahami dan mendalami Islam yang menjadi Agama kita sejak kita lahir hingga kita sedemikian dewasa ini? Apakah kita sudah merasa berbangga diri ketika kita adalah lulusan Sekolah Islam mulai dari Bustanul Anfal, MI, MTS, MA apakah sudah ada jaminan bahwa keislaman kita sudah Kaffah. Apakah ketika kita sekolah di Play Grup, TK, SD, SMP dan SMA keilmuan kita sudah mumpuni? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang patut kiranya kita tanyakan pada diri kita masing-masing Kawan….!!! Saat kita menjadi seorang mahasiswa apakah kita masih harus menambah wawasan keilmuan dan keislaman kita? Lalu bagaimana cara kita mendapatkan semua itu? Apakah ketika kita mengikuti organisasi yang mengunggulkan ayat-ayat Tuhan dan hadist-hadist Rosululloh dan menghafalnya dan selalu meneriakkan dengan lantang kalimat-kalimat takbir kita sudah merasa paling benar? Dan apakah ketika kita mengikuti organisasi yang yang kegiatannya membuat karya-karya tulisan ilmiah, kita sudah merasa bahwa keilmuan kita sudah sangat mumpuni ? Kemudian ketika kita mengikuti organisasi-organisasi yang bergeraknya hanya di bidang sosial saja, apakah kita merasa sudah sempurna kehidupan kita? Kemudian apakah ketika kita mengikuti organisasi yang bergerak dalam bidang perpolitikan, baik High Pilitics or Praktis Politics kita merasa bahwa kita sudah menjadi seorang MAHA dari perjalanan seorang siswa ? Dan pertanyaan yang selanjutnya adalah apakah kita sudah menyadari untuk apakah kita di ciptakan di dunia ini oleh Alloh ?

      Tulisan ini akan saya mulai dengan Hakikat penciptaan manusia di muka bumi ini ? Sebenarnya untuk apa sih, manusia (kita ini….yang merasa manusia lhoo???… Ups.. emang saya g manusia ya J) di ciptakan oleh Alloh di muka bumi ini ? Menurut saya yang Pertama adalah, Bagaimana kita menyadari bahwa kita telah di ciptakan oleh Alloh di bumi ini tidak sendirian, kita berada di antara makhluk ciptaan-ciptaan tuhan yang lainnya. Sebagaimana dalam Al Qur’an Q.S Al-Imron: 110 yang Artinya:

      “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Tuhan”.

      Berdasarkan ayat diatas Penciptaan manusia dimaksudkan untuk dapat menjadi seorang khalifah yang dapat menjaga keharmonisan alam yang ada di bumi ini (Mahluk Allah). Misi kekhalifahan dalam kehidupan dunia salah satunya adalah untuk dapat menyuruh yang baik dan mencegah yang mungkar dalam rangka beriman kepada Allah sang Pencipta. Dalam ayat selanjutnya di jelaskan bahwa ketika Allah menciptakan manusia di muka bumi ini ada kekhawatiran dari Malaikat Allah bahwa manusia nanti akan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Tetapi Allah menjawab sesungguhnya Aku lebih tahu apa yang kamu tidak ketahui” pada ayat ini keraguan itu langsung dijawab oleh Allah dengan sifat Kemaha-tahuan dari keagungan-Nya dengan kalimat inni a’lamu ma laa ta’lamuun. Sehingga dapat dapat kita ambil kesimpulan bahwa kehadiran manusia sebagai khalifatullah fil ard adalah tanda dari Kemaha-tahuan dan Keagungan Allah SWT.

      Jadi kita harus sadar bahwa kita di ciptakan Allah di muka bumi ini sebagi Khoiru Ummah (Sebaik-baik mahluk Allah), jika kita sadar merupakan sebaik-baik dari semua ciptaan Allah maka tugas sebagai seorang Kholifah atau Pemimpin adalah Tanggung jawab kita. Soo… Sebelum merasa menjadi seorang pemimpin/kholifah apakah kita sudah merasa menjadi Ummat yang Terbaik, yang akan tercermin dalam perilaku kita. Apakah perilaku kita sudah berbuat yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, karena itu adalah buah dari Iman kita kepada Allah. Jadi Iman itu tidak hanya di tunjukkan dengan beribadah yang rajin, Hafalan Al-Qur’an kita, Hafalan Hadist kita, tetapi seberapa jauh kita telah berguna bagi masyarakat.

      Selanjutanya yang Kedua setelah kita memiliki kesadaran bahwa kita adalah sebaik-baik Ummat adalah adalah tercantum dalam Al-Alaq Ayat 1-5 yang artinya;

     “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan, dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu yang paling pemurah, yang telah mengajarkan manusia dengan perantara kalam, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui.”

      Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kita untuk membaca dengan menyebut nama-NYA, membaca disini bukan hanya berupa membaca ayat-ayat Qouliyah tetapi juga ayat-ayat Kauniyah yakni alam dan segala isinya. Membaca merupakan sarana pembelajaran bagi manusia untuk dapat mendalami kualitas dirinya sehingga ia dapat menjaga perannya sebagai khalifah di bumi. Pendidikan dengan aktifitas membacanya merupakan hal penting bagi umat manusia dalam melakukan aktivisme sejarah. Jadi ketika kita sudah sadar bahwa kita adalah Khoiru Ummat maka kita secara otomatis kita adalah Kholifah fi Ard. Soo… Ketika kita menjadi Kholifah maka kita di perintahkan untuk membaca dalam artian yang lebih luas adalah kita harus meuntut ilmu (seperti yang kita lakukan sekarang ini menuntut ilmu di Universitas kita yang tercinta ini). Selain menuntut ilmu di kampus kita juga di tuntut untuk membaca ayat-ayat Kauniyah Allah yang ada di kampus. Soo…. Kiata harus mampu membaca berbagai problema dan fenomena politik yang ada di kampus kita ini… 
    
    Setelah kita sadar sebagai khoiru Ummah dan sadar bahwa menuntut ilmu, baik ilmu agama dan ilmu pengetahuan itu penting. Maka yang Terakhir adalah tertera dalam al-qur’an Q.S Al-Maa’un Ayat 1-7 : yang artinya:
   
   “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama, itulah orang-orang yang telah menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, maka celakalah bagi orang yang sholat, nyaitu orang yang lalai dari sholatnya, orang yang telah berbuat riya, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.”

      Ketika kita sadar bahwa kita adalah pemimpin yang beriman dan kita adalah seorang intelektual maka selanjutnya adalah sisi humanitas atau kemanusiaan kita yang harus di asah. Dalam penafsirannya Surat Al mau’un merupakan semangat yang dibawa oleh agama Islam sebagai agama yang memiliki praksis sosial di tengah arus peradaban manusia. Dalam surat ini Allah menyebutkan secara spesifik salah satu ciri orang yang mendustakan agama. Yakni yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Dimana ayat itu mempertegas muatan sosial di dalam kandungan Islam.

      Dalam ayat ini juga di singgung tentang Sholat dan Realitas social, Maksud dari arti sholat secara kualitatif adalah fungsi sholat sebagai transformasi sosial. Dimana sifat sholat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar harus benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Sehingga setiap upaya kejahatan sistematis yang menindas kaum mustadh’afiin dapat terelakkan. Hal ini yang menjadikan transendensi sebagai bagian yang menjiwai humanisasi dan liberasi. Kesadaran yang dibangun dalam ayat ini adalah teologi sebagai praksis sosial dalam melakukan transformasi peradaban umat. (Sani : 2011)

      Dari ketiga ayat di atas semuanya terangkum dalam tri kompetensi yaitu “ Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas”. Kalau saya boleh mengatakan bahwa dari ketiga ayat di atas telah terimplementasi dalam Trilogi Ikatan. Jadi ketika kita memilih Ikatan sebagai Organisasi untuk kita pilih maka kita harus bisa menjadikan agama islam sebagai agama kita kepada Allah, berdasarkan Ilmu Pengetahuan yang kita tekuni di masing-masing jurusan dan kemudian kita bias melakukan kontribusi kepada masyarakat sesuai dengan ilmu yang kita miliki.

      Jadi arah gerak dari Ikatan adalah menjadikan Agama Islam sebagai agama yang mengatur hubungan kita kepada Allah SWT, dalam implementasi kegiatannya kita bisa menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan juga Hadist-Hadist Rosul. Tetapi tidak hanya sekedar di hafal dan di bunyikan saja, tetapi bagaimana Hadist-Hadist itu bisa menjadi ladang amal kita, untuk di amalkan di masyarakat. Dalam konteks pembacaan Ayat-ayat Alloh ini kita juga harus sadar bahwa kita adalah Khoiru Ummah jadi kita harus memberikan kontribusi kita sebagai seorang pemimpin. Dalam konteks mahasiswa kita tidak boleh apolitis terhadap perpolitikan kampus, tetapi kita harus memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan dalam perpolitikan di kampus.

      Kemudian pengamalan dari intelektualitas kita dapat di implementasikan dalam kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan bidang-bidang keilmuan masing-masing. Tetapi sesuai dengan Q.S Al-Alaq 1-5 maka dalam melakukan pembelajaran atau menuntut ilmu kita harus membawa nilai-nilai kenabian (profetik) agar bisa menjadikan ilmu itu menjadi bermanfaat bagi orang lain. Jadi ilmu yang kita peroleh dari bangku kuliyah itu juga harus memiliki manfaat bagi orang lain, paling tidak bagi orang di sekeliling kita dan lebih luasnya bagi Negara, bangsa dan agama. Keilmuan dari Ikatan ini bisa berupa kegiatan-kegiatan seperti membuat PKM, pelatihan Bahasa inggris, bisa juga wira usaha dan juga Filsafat (Filasafat adalah ponsadi dari system berpikir kita, soo…. mempelajari filsafat adalah sama pentingnya dengan mempelajari ayat-ayat Allah), dan juga Isu-isu Kebangsaan yang selama ini terjadi di Negara kita ini. Saya pikir kajian-kajian seperti itu akan membuat seorang kader ikatan menjadi kader yang memiliki jiwa Islamisme yang tinggi tetapi juga menciptakan kader yang memiliki jiwa Nasionalisme yang tinggi pula.

      Kader Ikatan adalah kader yang memiliki Ideologi Islam yang mantab dan juga memiliki jiwa Nasionalisme yang tinggi, maka selanjutnya yang harus kita amalkan adalah sisi humanitas kita, yang ter maktub dalam Q.S Al-Maa’un 1-7. Sebagai seorang kader yang telah ber ideology islam dan memiliki ilmu pengetahuan maka langkah selanjutnya adalah bagaimana Islam dan Ilmu kita itu bisa di implementasikan kepada lingkungan masyarakat, dan bisa memberikan solusi atas problem-problem yang mereka hadapi. Agar kita tidak menjadi kader  yang NATO (Not Action, Talk Only), maka kita sebagai kader harus mengamalkan Q.S Al-Maa’un tersebut. Dalam kegiatan Ikatan maka kita bisa melakukan kegiatan Bhakti Sosial dan juga kegiatan-kegiatan sosialisasi dan memberikan motivasi kepada anak-anak ayang kuarang beruntung untuk bisa mengenyam dunia pendidikan. Sisi humanitas ini adalah realitas dari ibadah dan ilmu yang kita miliki, kita di tuntut untuk bisa mengaplikasikannya kepada masyarakat.
  • Jadi seorang kader Ikatan tidak hanya banyak hafalan alqur’an dan hadist nya doank….
  • Seorang kader Ikatan tidak hanya memiliki IPK yang cum loade….
  • Kader Ikatan bukan orang yang aktif dalam bidang social dan apolitis dalam kampus…..
Tetapi seorang kader ikatan adalah orang yang mampu menggabungkan ketiga realitas di atas menjadi ter implementasi dalam kehidupan seorang kader.

      Tulisan singkat ini saya dedikasikan untuk diri saya pribadi khususnya, karena kita semua sedang memulai proses belajar untuk menjadi seorang kader Islam, kader bangsa, negaradan juga kader persyarikatan. Dan yang kedua saya dedikasikan untuk seluruh kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Universitas Airlangga, kalian semua adalah Kakak-kakak dan saudara-saudara dan juga adik-adik bagi saya. Kita semua adalah keluarga besar yang dipertemukan oleh Allah dalam sebuah keluarga besar yaitu IMM Airlangga. Ketika kita sudah menjadi anggota dari IMM maka kita telah di ikat dalam sebuah Ikatan Ukhuwah, Ikatan Persaudaraan, B.Inggrisnya “We are together and We are Family Now, Than, Tomorrow and Forever.” (salah ya grammernya…. Sorry baru belajar hehe) Semoga tulisan ini bisa menjadikan motivasi bagi kita untuk lebih mantab dalam memperjuangkan agama Allah dalam organisasi kita yang tercinta “Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”.

      Terakhir semoga tulisan ini bisa memberikan semangat untuk membuat tulisan-tulisan bagi Ikatan kita: Terutama kepada yang saya banggakan Ayunda Mbak Rimba, Mbak Maulida, Mbak Esti dan dan Kakanda Mas Jauhari agar bisa memberikan kontribusi berupa tulisan-tulisan ringan seperti ini. Seperti kita ketahui bahwa kita sangat minim sekali dalam hal tulis menulis. Dan kepada saudara-saudara ku yang sangat saya sayangi dan cintai Immawan Fuad Fahmi Hasan, Hafidzudin Ahmad, Andrea Fadli, Faqih dan Immawati Cyntia Amy P., Elfira Maya Adiba, Dek Immawati Lusiana Ulfa, Dyah Restiyani, Ruroh dan Ain. Dan semua kader baru yang memiliki semangat juang yang sudah tidak di ragukan lagi dan tidak mungkin bisa saya sebutkan satu-satu karena jumlah kalian sudah tidak bisa di hitung dengan jari lagi (untuk menghitungnya harus pinjam jari tetangga hehe). Saya harap dengan jumlah kita yang semakin meningkat ini tidak mengurangi kualitas keislaman kita, dan kita bisa berkontribusi reall dalam kampus kita khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya.

      Akhir kata Billahi Fi Sabilil Haq, Fastabiqul Khoirot.

IMM Airlangga……….  Qum Fa’ang Dzir!!

Oleh: Ahmad Sholikin
*Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Airlangga



Senin, 02 Januari 2012

Tulisan dari Nur Ika Fatmawati

السلا م عليكم و ر حمة الله و بركا ته
            Sebelumnya saya ucapkan congratulation untuk pimpinan komisariat yang baru, semoga bisa lebih baik dari pimpinan yang sebelumnya. Tentunya butuh perjuangan yang luar biasa dan keikhlasan, luruskan niat Anda, amanah yang luar biasa dan merupakan nikmat tersendiri yang mana Allah swt memilih Anda sebagai penerimanya, senanitiasa syukuri dan amanatlah.

            IMM UNAIR AIRLANGGA, yang sangat saya banggakan dan cintai, melihat semangat dan perjuangan yang tulus dari segenap anggota komisariat IMM Unair, membuat saya optimis bahwa qt semua akan bisa berjuang bersama menjadikan IMM sebagai wadah jihad, belajar, berda’wah, sehingga bisa terus berkarya, dengan demikian harapan bapak-bapak muhammadiyah bahwa kita sebagai Penerus, Pelangsung,dan Penyempurna akan terwujud, dan tidak sebatas harapan kosong saja. Amin

الصبر يؤن على كلى عمل    
“ Sabar menolong setiap pekerjaan”, pengertian sabar diatas tidak hanya dalam artian diam menerima keadaan alias pasrah dengan tidak mau berusaha, tetapi pada dasarnya kita dituntut lebih ulet , bekerja keras, sampai titik maksimum, dengan tidak lupa disertai dengan do’a, insyaAllah semua akan tercapai, mengingat  keadaan SDM yang sangat minim, walaupun sudah 3 tahun IMM berdiri di Unair, jadi butuh kesabaran yang luar biasa untuk membesarkan IMM, dimana kemarin sebagian besar kendala dikarenakan sedikitnya SDM, jadi qt butuh step by step untuk mencapai tujuan, tapi setidaknya qta juga tidak serta merta menjadikan minimnya SDM sebagai kendala untuk melebarkan sayap IMM, setidaknya qta bisa melihat dan mencontoh pasukan kaum muslimin waktu perang Badar, melihat selisih jumlahnya sangat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan kaum kafirin, toh bisa menang atas izin Allah swt, jadi tetep semangat dan berjuang ^_^.
           
Nb: Di atas hanyalah Allah, di bawah hanyalah tanah, qt berada di atas bumi , jadi tak ada satupun yang dapat qt sombongkan karena yang maha besar, maha tinggi, hanyalah yang di atas yakni Allah swt, segala amal hanya qt niatkan untuk mencari Ridho ilahi Robbi.

السلا م عليكم و ر حمة الله و بركا ته



Oleh 
Immawati Nur Ika Fatmawati

Jumat, 30 Desember 2011

Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu

Oleh Ahmad Fuad Fanani
(Kader Muhammadiyah)

Muhammadiyah mempunyai posisi yang strategis tidak hanya di mata umat, rakyat, dan Pemerintah Indonesia, tapi juga di mata pengamat dan masyarakat luar negeri. Oleh karenanya, Muktamar Satu Abad Muhammadiyah yang akan diselenggarkan di Yogyakarta, pada 3-8 Juli 2010 mendatang, menarik untuk dicermati. Muktamar yang akan mengangkat tema "Gerak Melintasi Zaman: Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama" itu, sangat sesuai dengan kondisi internal dan eksternal Muhammadiyah serta umat Islam Indonesia.

Selama ini, banyak masyarakat yang menganggap bahwa posisi strategis Muhammadiyah adalah karena menjadi Ormas Islam terbesar kedua di Indonesia yang mempunyai massa puluhan juta. Oleh karenanya, dengan jumlah anggota yang besar itu, Muhammadiyah bisa berpotensi menjadi pendorong kekuatan politik, moral, ekonomi, dan kebudayaan. Namun, ada satu potensi yang sepertinya jarang disentuh dan diberdayakan secara maksimal oleh Muhammadiyah, yaitu potensi sebagai organisasi pembaharuan yang selama ini sedikit banyak juga sudah teruji sejarah.

Sayangnya, potensi sebagai gerakan pembaharuan yang bisa berjalan secara seirama dengan gerakan ilmu itu, akhir-akhir ini perannya meredup. Paling tidak, seperti yang sering disampaikan oleh Buya Syafii Maarif, bahwa orientasi Muhammadiyah sekarang lebih terpaku pada gerakan amal (Republika, 23/04/2010)

Agenda Gerakan Ilmu
Kalau kita baca sejarah perkembangan gerakan Muhammadiyah, pada dasarnya antara gerakan amal dan gerakan ilmu tidak bisa saling dipisahkan. Ketika KH Ahmad Dahlan pertama kali mendirikan Muhammadiyah di Kauman, Yogyakarta, selain melakukan gerakan keilmuan dengan mengajar mengaji dan mendirikan sekolah untuk umat Islam dan masyarakat pribumi, beliau juga melakukan gerakan amal. Hal itu terwujud dengan pendirian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang menjadi wujud nyata untuk membumikan perintah agama guna menolong masyarakat mustadz'afin.

Selain itu, sebagai ormas keislaman, Muhammadiyah juga banyak menelorkan pembaruan dan kritik terhadap konservatisme keagamaan seperti takhayul, bid'ah, dan churafat (TBC) yang saat itu banyak membelenggu umat dan menyebabkan mereka tertinggal. Namun, Muhammadiyah bukan hanya organisasi pemikir yang berhenti pada dataran konsep, tapi juga berusaha melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan, amal sosial, dan ekonomi umat dengan mendirikan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, serta amal usaha lainnya. Rumusan itulah yang sering disebut oleh M. Amin Abdullah sebagai realisasi konsep a faith in action dalam tubuh Muhammadiyah.

Nah, dalam kerangka perpaduan antara gerakan amal dan gerakan ilmu, tampaknya gerakan ilmu di Muhammadiyah sekarang kurang mendapat porsi yang seimbang. Memang, harus diakui bahwa ekspansi gerakan Muhammadiyah dalam bidang amal sosial semakin meluas. Hal itu tampak terlihat dari semakin banyaknya perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, ataupun kegiatan yang dilakukan oleh majelis dan lembaga di PP Muhammadiyah, pimpinan wilayah, pimpinan daerah, maupun pimpinan cabang Muhammadiyah.

Namun, amal sosial itu kurang diimbangi oleh peningkatan kualitas, pembukaan ruang dialog, penciptaan pusat-pusat keunggulan (center for excellence), serta peningkatan produktivitas karya ilmiah dari warga serta pimpinan Muhammadiyah. Mestinya, perguruan tinggi yang dimiliki Muhammadiyah itu, dikembangkan kualitas dan potensinya secara maksimal sehingga ke depan ada yang masuk perguruan kelas dunia (world class university) sebagai universitas riset yang diperhitungkan.

Majelis Tarjih dan Tajdid yang diharapkan mengawal gerakan keilmuan Muhammadiyah, juga masih kurang berfungsi secara maksimal. Fatwa mereka tentang pengharaman rokok dan bunga bank, tampak seperti kurang relevan dengan kondisi masyarakat umum. Majelis ini lebih tepat mengeluarkan fatwa dan pokok pemikiran yang bermanfaat untuk perbaikan kondisi bangsa seperti soal mafia kasus, korupsi, reformasi birokrasi, peningkatan kualitas pendidikan, penegakan hukum, moralitas politik, dan sebagainya. Tidak heran jika Buya Syafii Maarif mengusulkan agar majelis ini diganti namanya menjadi Majelis Tarjih dan Kemerdekaan Berpikir. Mungkin maksudnya agar lebih peka dan berani mengeluarkan konsep-konsep yang lebih berani, membumi, dan bermanfaat untuk masyarakat luas. Tokoh-tokoh Muhammadiyah hendaknya juga berani berpikir jauh untuk membongkar warisan ijtihad lama yang mungkin sudah tidak relevan untuk memecahkan masalah kemanusiaan global sekarang ini.

Meskipun Muhammadiyah terkesan lamban dan kurang maksimal sebagai gerakan ilmu, namun Muhammadiyah mempunyai potensi besar untuk melakukannya. Setidaknya, Muhammadiyah bersama NU sudah berupaya untuk memperkuat dirinya sebagai civil Islam yang sangat penting dalam proses demokratisasi bangsa.

Potensi yang sudah ada itu, tentu harus direvitalisasi dan dikembangkan. Sudah saatnya Muhammadiyah meneguhkan jati dirinya sebagai gerakan ilmu yang bersifat lintas golongan, suku, agama, politik, dan negara. Untuk itu, Muhammadiyah harus aktif membentuk dan terlibat dalam epistemic community dalam lingkung internal dan eksternal. Epistemic community adalah sebuah jaringan para profesional atau pakar yang mengakui keahlian dan kompetensi masing-masing dalam hal-hal khusus, serta sebuah pendapat kebijakan otoritatif untuk pengetahuan yang relevan dalam bidang atau area tertentu (Hadi Soesastro, 2009).

Berkaitan dengan itu, maka Muhammadiyah selayaknya memanfaatkan potensi yang dimiliki kadernya dalam berbagai bidang keahlian, mulai dari agama, ekonomi, politik, teknologi, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, serta pemberdayaan masyarakat. Setelah itu, Muhammadiyah seyogianya menggalakkan dialog di antara pakar luar dan kader itu untuk mendiskusikan dan merumuskan berbagai persoalan umat dan bangsa yang segera butuh dipecahkan. Tentu saja, hasil dialog itu hendaknya dirumuskan dalam kerangka praktis dan kebijakan yang bisa diimpelementasikan di lapangan. Dengan begitu, kerja sama dan saling kontribusi antarkader dalam ranah konseptual dan praktis ini akan tercapai.

Gerakan Kultural Muhammadiyah

Republika, [04-11-2008]

Almisar Hamid
Mantan Aktivis IMM dan Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tulisan Deni al Asy'ari mengenai Runtuhnya Gerakan Kultural Muhammadiyah (Republika, 24/10) menarik disimak. Ia melihat keterlibatan Muhammadiyah secara praktis dalam ruang politik semakin kentara, terutama setelah berdiri Partai Matahari Bangsa (PMB) yang menurut dia didukung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin.

Din Syamsuddin, menurut Deni, di samping mendukung berdirinya PMB secara terang-terangan juga melibatkan diri dengan berbagai pernyataan yang menunjukkan kesiapannya menjadi petinggi republik ini (presiden atau wakil presiden). Sekalipun fenomena yang demikian tidak semuanya didukung oleh pimpinan dan warga Muhammadiyah, warga Muhammadiyah nyatanya tidak dapat mengelak akan adanya bayang-bayang pergeseran posisi dan peran Muhammadiyah sebagai gerakan kultural yang idealnya mengabdi untuk kepentingan bangsa dengan mengayomi semua partai politik (parpol) dengan posisi yang sama selama bertujuan mendorong amar makruf nahi munkar ke arah gerakan politik.

Akan tetapi, menurut Deni, yang terjadi justru sebaliknya, adanya upaya pemihakan yang dilakukan oleh salah satu pimpinan Muhammadiyah, seperti Ketua Umum Pusat Muhammadiyah terhadap salah satu partai politik. Hal ini setidaknya bisa dicermati melalui berbagai pernyataan yang diberikan oleh Ketua Umum Pusat Muhammadiyah terhadap PMB dalam berbagai kegiatan partai yang berlambang matahari merah ini yang secara terbuka ditafsirkan memberikan dukungan terhadap partai tersebut.

Menurut Deni, langkah-langkah tersebut tentu saja tidak ada salahnya. Tetapi, berpijak pada khittah Muhammadiyah yang menjunjung tinggi etika berpolitik atau meminjam istilah Prof Dr HM Amien Rais yang menggunakan prinsip high politic, tentu saja manuver maupun berbagai pernyataan yang dikeluarkan oleh petinggi Muhammadiyah tersebut akan dapat mencederai cita-cita dan idealisme Muhammadiyah karena dinilai menunjukkan keberpihakan terhadap parpol tertentu.

Sekilas tentang PMB, partai itu memang didirikan oleh kader-kader muda Muhammadiyah yang sebagian masih duduk di pengurus Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah. Orang nomor satu PMB saat ini, Imam Addaruqutni (mantan politisi PAN), adalah mantan ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah menggantikan Hajriyanto Y Tohari ( saat ini menjadi politisi Partai Golkar).

Sebelum Hajriyanto, PP Pemuda Muhammadiyah dipimpin oleh Din Syamsuddin. Dia imam saat ini yang juga dipercaya memimpin salah satu badan di bawah Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Seperti di pusat di mana anggota pengurus PMB banyak yang merangkap menjadi pengurus Pemuda Muhammadiyah, begitu juga di tingkat wilayah dan daerah. Mereka sebagian juga masih aktif menjadi pengurus Pemuda Muhammadiyah, bahkan pengurus Muhammadiyah.

Penting diketahui, Muhammadiyah adalah gerakan kultural/gerakan membangun masyarakat madani atau masyarakat utama, istilah Muhammadiyah. Di antara konsep masyarakat utama yang dirumuskan Muhammadiyah itu adalah hadirnya sistem dan tatanan sosial yang memberikan kemudahan, perlindungan, persamaan, kemerdekaan, dan terbebasnya individu-individu anggota masyarakat dari belenggu dan kondisi hidup yang tidak manusiawi (miskin, bodoh, terbelakang).

Salah satu yang digarap oleh Muhammadiyah sebagai gerakan kultural sejak awal berdirinya adalah bidang pendidikan dengan membangun sekolah sebanyak-banyaknya. Mengapa pendidikan ?

Meminjam pandangan Amien Rais, mantan Ketua PP Muhammadiyah, karena kebodohan telah menjadi musuh terbesar umat Islam dan mustahil umat Islam dapat membangun masa depan yang lebih baik bilamana kebodohan dan keterbelakangan tetap saja melekat lengket dalam kehidupan mereka. Suksesnya Muhammadiyah membangun sekolah sebanyak-banyaknya ditopang oleh doktrin yang disebutnya sebagai pencerahan umat yang terus dipegang oleh para kader Muhammadiyah.

Adapun politik dalam konsep gerakan kultural Muhammadiyah bukan politik praktis, politik mengejar kekuasaan, tetapi politik amar ma'ruf nahi munkar. Di sini setidak-tidaknya Muhammadiyah mampu menjadi kelompok penekan yang andal dalam mengawal jalannya kekuasaan. Amien Rais menyebutnya sebagai high politic atau politik luhur.
Langgengnya gerakan Muhammadiyah, menurut Amien Rais, juga ditopang oleh doktrin yang disebutnya tidak berpolitik praktis. Sepintas sikap Muhammadiyah seperti ini ada yang menilai tidak bijak karena bagaimana mungkin dakwah dalam arti rekonstruksi sosial dapat berhasil bila dijauhkan dari politik praktis.

Masalahnya, kata Amien, Muhammadiyah membangun masyarakat. Membangun katakanlah infrastruktur dalam jangka panjang, Muhammadiyah tidak ingin mengambil short cut atau jalan pintas politik dengan membangun kekuasaan dan berambisi ikut berebut kekuasaan dengan kekuatan-kekuatan politik yang ada.

Logika Muhammadiyah adalah dengan membina masyarakat lewat siraman nilai-nilai Islam, Muhammadiyah berarti telah ikut mempersiapkan manusia-manusia yang berakhlak, memegang nilai-nilai dan norma-norma moral secara kuat. Dengan begitu, tatkala manusia-manusia tersebut masuk ke gelanggang politik praktis, mereka tidak akan menjadi homo politicus yang mengejar kekuasaan demi kekuasaan semata.

Dengan kata lain, mereka akan mampu menolak proses dehumanisasi dalam dirinya. Mereka akan memandang kekuasaan politik sebagai amanat untuk menyejahterakan rakyat.
Amien menyebut salah satu rahasia kelestarian dan kestabilan Muhammadiyah terletak pada kepiawaiannya menghindari politik praktis. Pengalaman menunjukkan, bila kepentingan politik sudah masuk ke dalam tubuh sebuah organisasi nonpolitik, maka organisasi tersebut menjadi rawan konflik dan perpecahan.

Hingga saat ini Muhammadiyah sebagai gerakan kultural terlihat konsisten menghindari politik praktis. Masalahnya, ternyata godaan politik terhadap kader-kader Muhammadiyah sulit dibendung. Seperti kader bangsa Indonesia lainnya, kader Muhammadiyah juga banyak yang siap menjadi pemimpin bangsa, termasuk Din Syamsuddin dan sebelumnya Amien Rais untuk menjadi presiden.

Melihat aturan Muhammadiyah tentang politik bagi anggota, sebenarnya sudah ada sejak lama. Seperti Keputusan Muktamar 40 di Surabaya 1978 yang berbunyi: 1) Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam yang beramal dalam segala bidang kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan dan tidak merupakan afiliasi dari sesuatu partai politik atau organisasi apa pun, 2) Setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya dapat tidak memasuki atau memasuki organisasi lain sepanjang tidak menyimpang dari anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Persyarikatan Muhammadiyah

Berdasarkan aturan di atas dapat dipahami bahwa Muhammadiyah memberi kebebasan kepada anggota dan kadernya memasuki atau tidak memasuki organisasi lain sepanjang tidak bertentangan dengan Muhammadiyah. Masalahnya, bagaimana jika kader Muhammadiyah memegang jabatan rangkap seperti menjadi pengurus di PMB atau partai lainnya?
Perlu diingat, ketika Amien Rais memimpin Partai Amanat Nasional dan ikut bertarung menjadi calon presiden, ia tidak lagi menjadi ketua PP Muhammadiyah. Artinya, Amien Rais tidak memiliki jabatan rangkap ketika itu.

Bagaimana dengan Din Syamsuddin yang dinilai dekat dengan PMB yang notabene adalah wilayah politik praktis walaupun ia tidak duduk di PMB? Perlukah ada regulasi dari PP Muhammadiyah atas perilaku politiknya?

Ikhtisar:
- Muhammadiyah terlihat konsisten menghindari politik praktis.
- Masalah muncul karena ada godaan politik terhadap kader-kader Muhammadiyah.
(-)